Kangen Permainan Anak Jaman Dulu

Permainan Anak Jaman Dulu – Blog.lakupon.com, Jakarta. “Lain dulu lain sekarang” kata-kata yang sering mimin ucapkan ketika menjawab keluh kesah seorang teman yang membandingkan masanya dulu dan sekarang. Ketika seseorang bertemu dengan teman masa kecil, apa lagi kalau bukan bercerita tentang asik dan begitu indahnya masa itu.

Masa dimana sarung digunakan untuk menutupi bagian atas tubuh hingga hanya menyisakan bagian mata, layaknya seorang ninja. Masa dimana bermain sepak bola di tengah guyuran hujan dan bermandikan lumpur. Atau ketika merasakan perihnya ketika lengan, kaki, maupun wajah terkena peluru kertas koran yang direndam air sebelumnya. Sangat indah dan bikin kangen bukan?

Permainan Anak Jaman Dulu | Perkembangan Jaman

Kini semua hampir sirna, sangat susah untuk menjumpai kesemua permainan seperti yang mimin sebutkan diatas. Tak banyak anak yang bermain bola dibawah guyuran hujan, yang ada mereka asik bermain bola di sebuah rental PS. Tak ada lagi yang bermain plethokan (der-deran), yang ada malah mereka asik bermain Point Blank di berbagai warnet kesayangan. Apakah semua ini karena kemajuan tekhnologi yang kian pesat? Mungkin saja.
Saat ini, teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah satu jenis dari bentuk teknologi yang berkembang dengan sangat pesat. Melalui fitur andalannya yaitu internet, saat ini teknologi komunikasi dan informasi seperti merupakan salah satu jenis teknologi yang menduduki peringkat teratas, baik dari sisi positif, negatif, hingga penggunaannya.

Dampak Positif Dan Negatif Kemajuan Teknologi Informasi

Memang sebagai sebuah teknologi yang berkembang pesat, pastilah teknologi informasi dan komunikasi memiliki beberapa kelebihan dan juga kelemahan. Ada yang disadari, dan ada juga yang mungkin tidak disadari, karena sudah menjadi bagian dari kepribadian individu tertentu. Berikut ini adalah dampak positif dan juga dampak negative yang bisa dirasakan di dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut ini adalah beberapa dampak positif dari teknologi informasi dan juga komunikasi:

• Membantu menyelesaikan masalah dengan mudah
• Sebagai sarana untuk jual beli
• Memiliki banyak dampak positif dalam dunia pendidikan
• Sharing dan berbagi file
• Mepermudah komunikasi dengan individu lainnya yang jauh
• Mempermudah akses terhadap informasi terbaru

Meskipun memiliki banyak dampak positif, akan tetapi teknologi informasi dan komunikasi ternyata memiliki beberapa dampak negatif yang cukup mengganggu. Kebanyakan dampak tersebut disebabkan karena penyalahgunaan dari teknologi informasi dan komunikasi, ataupun disebabkan karena kurangnya pemahaman user akan etika dan juga cara untuk menggunakan teknologi informasi dan juga komunikasi dengan baik dan juga benar.

Berikut ini adalah beberapa dampak negatif dari teknologi informasi dan juga komunikasi:

• Individu menjadi malas untuk bersosialisasi secara fisik
• Meningkatnya penipuan dan juga kejahatan cyber, hingga Cyber Bullying
• Konten negative yang berkembang pesat
• Fitnah dan juga pencemaran nama baik secara luas
• Menjauhkan yang dekat
• Mengabaikan tugas dan juga pekerjaan
• Mebuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna

Namun tentu saja semua kembali pada individu(pengguna) masing-masing. Kembali ke pokok bahasan mimin di awal, yakni permainan anak jaman dulu. Permainan anak jaman dulu yang pastinya selalu kita ingat. Permainan tradisional jaman dulu yang tentu saja sangat berbeda dengan permainan jaman sekarang. Tapi mimin yakin, di beberapa pelosok negeri ini masih ada yang mau memainkannya.

Congklak

Congklak merupakan permainan yang memiliki berbagai nama di Indonesia. Masyarakat di jawa biasa menyebut permainan ini dengan nama congklak, namun ada juga yang menyebutnya dakon, dhakon atau dhakonan. Beberapa daerah di Sumatera yang berkebudayaan Melayu, permainan ini dikenal dengan nama congkak. Dan di Lampung, permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban, sedangkan di Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan beberapa nama: Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang dan Nogarata.

Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congklak atau buah congklak. Umumnya papan congklak terbuat dari kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congklak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.

Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil dan meletakkan satu ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya berlawanan arah jarum jam. Bila biji habis di lobang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bila habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lobang kecil di sisinya. Bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa.

Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat diambil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.

Tahukah kamu, pada jaman dahulu, permainan ini dimainkan oleh para petani di Pulau Jawa untuk meramalkan musim, mengetahui kapan saatnya untuk menanam dan panen. Serta guna memprediksi masa depan. Sedangkan di Sulawesi, permainan congklak hanya dimainkan selama periode berduka.

Gasing

Gasing merupakan salah satu permainan tradisional Nusantara, walaupun sejarah penyebarannya belum diketahui secara pasti. Di wilayah Pulau Tujuh (Natuna), Kepulauan Riau, permainan gasing telah ada jauh sebelum penjajahan Belanda. Sedangkan di Sulawesi Utara, gasing mulai dikenal sejak 1930-an. Permainan ini dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa. Biasanya, dilakukan di pekarangan rumah yang kondisi tanahnya keras dan datar. Permainan gasing dapat dilakukan secara perorangan ataupun beregu dengan jumlah pemain yang bervariasi, menurut kebiasaan di daerah masing-masing.

Hingga kini, gasing masih sangat populer dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan warga di kepulauan Rian rutin menyelenggarakan kompetisi. Sementara di Demak, biasanya gasing dimainkan saat pergantian musim hujan ke musim kemarau. Masyarakat Bengkulu ramai-ramai memainkan gasing saat perayaan Tahun Baru Islam, 1 Muharram.

Lompat Tali

Permainan Anak Jaman Dulu - Lompat TaliSiapa yang tidak tahu permainan yang menggunakan karet disatukan sampai panjangnya mencapai 2-3 meter ini? Yap, lompat tali atau biasa kita sebut lompat karet. Mimin yakin kamu pasti pernah mamainkannya sewaktu masa kanak-kanak dahulu. Mudahnya perlengkapan yang dibutuhkan, membuat permainan ini juga mudah ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Meskipun dibeberapa tempat memiliki nama khasnya masing-masing. Permainan lompat tali ini sangat identik dengan kaum perempuan, walaupun tidak jarang anak laki-lakipun memainkan permainan ini. Salah satu nama permainan ini yaitu permainan Tali Merdeka yang di kenal oleh masyarakat di Prov. Riau dan sekitarnya.

Untuk bermain permainan lompat tali, dibutuhkan minimal 4 orang anak. Pertama harus ada dua pemain yang jaga. Dan yang menjaga ini yang memegang karet di kedua belah sisi yang saling berhadapan. Pemain yang tidak jaga harus melompati karet tersebut. Biasanya untuk menentukan siapa yang jaga dilakukan hompimpa. Permainan lompat tali tergolong sederhana karena hanya melompati anyaman karet dengan ketinggian tertentu. Jika pemain dapat melompati tali-karet tersebut, maka ia akan tetap menjadi pelompat hingga merasa lelah dan berhenti bermain. Namun, apabila gagal sewaktu melompat, pemain tersebut harus menggantikan posisi pemegang tali hingga ada pemain lain yang juga gagal dan menggantikan posisinya.

Egrang

Permainan Anak Jaman Dulu - EgrangEgrang atau engrang adalah alat permainan tradisional yang terbuat dari 2 batang bambu dengan ukuran selengan orang dewasa, dengan tumpuan bawah bambunya agak besar. Permainan ini sudah tidak asing lagi, meskipun di berbagai daerah di kenal dengan nama yang berbeda beda. saat ini, permainan egrang juga sudah mulai sulit di temukan, baik di desa maupun di kota, Permainan Egrang sendiri sudah ada sejak dahulu kala dan merupakan permainan yang membutuhkan ketrampilan dan keseimbangan tubuh.

Permainan Egrang sendiri sangat unik karena sangat dibutuhkan ketrampilan dan keseimbangan tubuh bila menaikinya, makanya tidak semua orang baik orang dewasa maupun anak anak bisa bermain Egrang. Bentu Egrang disesuaikan dengan pemakainya sesuai dengan umur si pemakai, bila yang bermain orang Dewasa maka pembuatanya pun panjang dan tinggi, sedangkan untuk anak anak bentuk dan ukuranya pun pendek.

Aturan permainan egrang dapat dibagi menjadi dua, yaitu perlombaan lari dan pertandingan untuk saling menjatuhkan dengan cara saling memukulkan kaki-kaki bambu. Perlombaan adu kecepatan biasanya dilakukan oleh anak-anak yang berusia antara 7-11 tahun dengan jumlah 2–5 orang. Sedangkan, permainan untuk saling menjatuhkan lawan biasanya dilakukan oleh anak-anak yang berusia antara 11-13 tahun dengan menggunakan sistem kompetisi.

Petak Umpet

Petak umpet, salah satu permainan tradisional yang telah berumur ratusan tahun, bahkan mungkin ribuan tahun, tidak jelas kapan permainan ini mulai ditemukan atau dimainkan. Yang jelas pada abad ke-2, seorang penulis yunani menulis tentang permainan yang disebut apodidraskinda. Permainan itu mirip dengan petak umpet yang kita kenal sekarang. Petak umpet adalah sejenis permainan mencari teman yang bersembunyi, bisa dimainkan oleh minimal 2 orang, namun jika semakin banyakakan semakin seru.

Di berbagai dunia, permainan petak umpet mempunyai nama berbeda, sesuai dengan bahasa di negara masing-masing. Misalnya el escondite (Spanyol), jeude chache cheche (Prancis), Machboim (Israel), Sumbaggoggil (Korea Selatan), Hide and Seek (Inggris). Begitu juga dengan di Indonesia, nama permainan Petak Umpet juga berbeda di setiap daerahnya. Misalnya di Sunda dikenal dengan Ucing Sumput, di Jawa Jepungan/Jethungan dan masih banyak lagi.

Itulah beberapa permainan anak jaman dulu yang sangat sulit di jumpai saat ini. Selain karena permainan anak jaman dulu begitu murah meriah, permainan anak jaman dulu juga memiliki beragam manfaat. Bandingkan dengan permainan anak jaman sekarang yang lebih membuat anak berdiam diri, serius dengan gadget maupun game console, maupun game pc. Menurut kamu, lebih banyak manfaat permainan jaman dulu atau jaman sekarang?

Semoga artikel yang mimin buat ini menambah wawasan dan juga dijadikan sebagai pengingat bagi kita semua. Jangan sungkan untuk membagikannya di media social yang kamu miliki bila menurutmu artikel ini bermanfaat.

FOLLOW US ON